Sepandai-Pandainya Tupai Melompat, Kenapa Bisa Jatuh?


Saya yakin kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan peribahasa: “Sepandai-padainya tupai melompat, pasti pernah jatuh juga”. Kalo boleh saya artikan, makna peribahasa tersebut kurang lebih adalah bahwa semua orang pasti punya kekurangan dan pernah mengalami kegagalan, meskipun sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan kesalahan dan betapapun lihainya orang tersebut di bidangnya. Sederhananya sih, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.

Dalam peribahasa tersebut kita menggunakan analogi seekor ‘tupai’ sebagai subjek, sedangkan kata kerja ‘melompat’ sebagai predikatnya. Padahal di dunia ini ada banyak hewan lain yang memiliki kemampuan untuk melompat yang tidak lebih buruk dari seekor tupai, seperti katak, laba-laba atau kanguru misalnya. Tapi kenapa harus tupai? Oke, lupakan pertanyaan yang tidak penting barusan.

Balik lagi. Perlu diketahui bahwa keahlian melompat yang dimiliki oleh seekor tupai bukanlah kemampuan dasar/bawaan lahir seekor tupai. Seekor tupai yang baru lahir tidak langsung memiliki kemampuan melompat sebagaimana yang dimiliki oleh seekor tupai dewasa. Ada proses belajar yang dilakukan oleh seekor tupai agar bisa melompat sebagaimana mestinya. Nah, pesan moralnya  adalah apa yang telah kita pelajari dengan baik, bisa saja kita melakukan sebuah kesalahan saat mempraktekannya.

Kegagalan memang tidak pandang bulu, makanya gak usah dicukur juga gak papa. Besar ataupun kecil, hampir semua orang pasti pernah mengalaminya. Dalam hidup ini, sebagai manusia pastinya saya juga gak luput dari yang namanya kegagalan. Dan kegagalan terbesar yang menurut saya pernah saya lakukan adalah ketika TIDAK LULUS UJIAN Sekolah Menengah Kejuruan. Sebuah hal yang umumnya paling ditakuti oleh hampir seluruh siswa menjelang akhir sekolah, dan sialnya saya sendiri justru malah mengalaminya.

Sedikit informasi (lebih tepatnya pamer), saya sebenarnya termasuk dalam kategori siswa yang tidak bodoh, tapi sayangnya saya juga kurang pintar. Terbukti sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah saya sering masuk dalam peringkat 10 besar di kelas, tapi gak pernah sekalipun saya berada di peringkat pertama. Hal ini cukuplah untuk sekedar membuktikan bahwa saya itu bukan siswa yang bodoh (walaupun gak pintar). Pada saat latihan ujian pun nilai saya tidak buruk-buruk amat, bahkan pernah sekali nama saya muncul di peringkat kedua nilai tertinggi latihan soal Ujian Nasional. Namun sayangnya, semua itu gak ada artinya sama sekali ketika hari pengumuman kelulusan itu tiba, di mana hari itu saya dinyatakan bahwa TIDAK LULUS. Saya merasa apa yang saya pelajari selama ini menjadi hal yang sia-sia.

Meminjam istilah peribahasa di atas tadi, hari itu saya merasa menjadi seekor tupai. Tupai yang tadinya gak bisa melompat sama sekali, namun setelah melewati proses belajar akhirnya bisa menjadi seekor tupai yang lihai melompat kesana-kemari, melompat dari dahan yang satu ke dahan yang lain lebih baik daripada tupai-tupai yang lainnya, tidak pernah jatuh (tapi sering terpeleset), hingga di hari itu saya harus 'jatuh'. Saya sendiri gak habis pikir, kenapa tupai yang udah pandai melompat seperti saya masih bisa jatuh? Yang jelas, tentu semua akan berbeda ceritanya jika seandainya saya memang dari awal tidak dikenal sebagai seekor tupai yang mahir dalam melompat di kalangan tupai-tupai lain.

Dan dari peribahasa ‘Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga’ saya jadi memilki pendapat bahwa ‘jatuh’ seolah-olah sudah menjadi sebuah hal yang mutlak untuk dialami. Semacam bagian dari nasib seseorang yang masih ada kaitannya dengan ujian yang diberikan oleh Tuhan kepada umat-NYA. Jadi Tuhan memang sengaja membuat seekor tupai terjatuh sebagai sebuah ujian di dalam hidupnya, tentu bukan dengan tujuan agar kita putus asa, melainkan dengan tujuan agar kita bisa belajar dari kesalahan dan melakukan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Setelah hari itu berlalu, kepala saya jadi dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan. Mungkin kalau kepala saya bisa dibelah, begitu dibelah akan berceceran tanda tanya keluar dari kepala saya kemana-mana. Dan salah satu pertanyaan dari ribuan pertanyaan yang ada di kepala saya yang tanda tanyanya paling gede adalah : Apa yang membuat tupai seperti saya sampai bisa jatuh?

Tentunya ada beberapa hal yang membuat tupai bisa terjatuh bukan? Apakah karena tupai tersebut kurang berhati-hati? Atau mungkin karena memang dahannya terlalu licin? Atau jangan-jangan mungkin malah saya termasuk seekor tupai yang sombong? Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut setidaknya bisa saya jadikan sebagai sebuah hikmah dan pelajaran tak ternilai yang bisa diambil dari sebuah pengalaman buruk yang saya alami.

Dari pengalaman buruk saya sebagai seekor tupai yang gagal dalam melompat tadi, saya juga masih menyisakan beberapa pertanyaan yang sampe sekarang masih membuat saya penasaran :

Bisakah seekor tupai melompat tanpa harus jatuh? Bisakahkah manusia tetap menjalani hidupnya tanpa harus melakukan sebuah kesalahan atau mengalami sebuah kegagalan? Bisakah?



Omet

Punya banyak bakat terpendam, tapi lupa dipendam di mana.

Post a comment

0 Comments