Gak Punya Otak


Banyak hal ngeselin yang sering saya temukan dalam perjalanan pulang saya dari kantor menuju rumah dengan menggunakan sepeda motor. Mulai dari karyawan pengendara sepeda motor yang merasa cuma dirinya doang yang ingin pulang ke rumah, bapak-bapak gak sabaran yang sering menerobos lampu merah, sampai mas-mas pengendara motor yang gak pake helm tapi selalu merasa dirinya paling benar di jalanan, atau bisa juga kombinasi antara ketiganya tadi: Mas-mas karyawan pengendara sepeda motor dengan tampang bapak-bapak yang tidak memakai helm dan suka menerobos lampu merah, udah gitu masih aja ngotot merasa dirinya yang paling benar. Yap, yang terakhir saya sebutkan tadi merupakan kombinasi maha ngeselin yang pernah saya temukan di jalanan.

Entah mimpi apa saya malam sebelumnya, beberapa waktu lalu saya hampir bersenggolan dengan mas-mas karyawan pengendara sepeda motor dengan tampang bapak-bapak yang tidak memakai helm dan suka menerobos lampu merah tadi. Kejadian tersebut terjadi pada saat saya sedang melewati sebuah lampu merah yang hampir setiap hari saya lewati dalam perjalanan menuju kantor ataupun sebaliknya. Dari kurang lebih 3 lampu merah yang saya lewati, perempatan lampu merah tersebutlah yang menurut saya paling angker. Gara-gara jarang ada polisi lalu lintas yang bertugas di sana, kendaraan yang melintas di perempatan tersebut pun jadi seenaknya, lampu merah yang ada pun seolah-olah cuma jadi pajangan. Efeknya kalo gak sering macet, ya pasti di situ sering banget terjadi kecelakaan.

Setelah lampu hijau menyala, tiba-tiba dari arah kiri saya sebuah sepeda motor lain melaju dengan kecepatan yang tinggi melintas. Dengan panik saya langsung mengerem secara mendadak, pun orang yang secara tiba-tiba melintas tadi. Masih dengan detak jantung yang tidak beraturan, saya mencoba untuk menengok ke arah pengendara sepeda motor yang hampir mencelakakan saya tadi. Memastikan bahwa orang tersebut juga baik-baik saja. Meskipun dari raut mukanya tampak sangat panik, saya bisa melihat jelas bahwa mas-mas tersebut masih seumuran dengan saya, kalaupun beda, saya yakin selisihnya pasti tidak begitu jauh, namun entah kenapa dari tampangnya terlihat jauh lebih boros dari saya, sehingga mas-mas tersebut malah terkesan seperti bapak-bapak.

Secara spontan kata maaf keluar dari mulut saya. Ya meskipun pada kejadian tersebut sebenarnya orang tersebutlah yang paling layak untuk meminta maaf, karena posisinya yang memang sudah salah. Di luar dugaan, ternyata secara spontan juga mulut mas-mas tadi malah mengeluarkan umpatan-umpatan kasar yang ditujukan kepada siapa lagi kalo bukan kepada saya. Mimik wajah yang tadinya keliatan panik tiba-tiba berubah menjadi ekspresi sorotan mata yang tajam ke arah saya. Saking tajamnya, sampai-sampai pakaian yang saya kenakan pada beset-beset gara-gara diliatin terus sama dia, hahaha... nggak ding.

Entah mengapa yang saya liat matanya seperti hampir mau keluar. Dia melotot ke saya. Merasa di posisi yang benar, saya pun memberanikan diri untuk membalas dia dengan cara yang sama, memelototi dia juga. Ternyata dia justru malah tambah melotot. Karena nyali saya mulai menciut saya pun kedip. Tapi ekspresinya tidak juga berubah, dia masih saja melotot ke arah saya. Sial. Saya baru sadar kalo ternyata matanya memang belo dari sananya.

Entah karena posisi kita mengganggu perjalanan atau niat mereka ingin melerai, para pengendara lain pun membunyikan klakson dengan nyaring dan bertubi-tubi, tentunya agar kita berdua segera enyah dari sana. Akhirnya setelah entah kalimat apa yang dia ucapkan yang saya sendiri tidak begitu paham, mas-mas karyawan pengendara sepeda motor dengan tampang bapak-bapak tersebut kembali tancap gas dan berlalu dengan muka dongkolnya. Begitu juga dengan saya, tapi dengan kecepatan yang sedikit saya kurangi.

Sambil melanjutkan perjalanan, saya terus berpikir apa sih sebenernya tujuan hidup orang-orang yang jelas-jelas berada pada posisi yang salah tapi dengan mati-matian merasa bahwa dirinya paling benar? Otak mereka diletakan di mana sih sebenarnya? Kalo memang punya otak kenapa lampu merah masih saja mereka terobos? Bukankah hal tersebut sangat berbahaya? Kalo memang mereka malas untuk memikirkan keselamatan orang lain, ya minimal dia bisalah berpikir tentang keselamatan untuk dirinya sendiri. Udah gak pake helm, masih saja nekat. Atau jangan-jangan memang beneran gak punya otak?

Logikanya kenapa smartphone kita pakein cover ataupun casing, ya karena kita tahu dan sadar ada bagian-bagian dari smartphone kita yang sangat rawan dan sangat perlu banget buat dilindungi agar tidak terjadi kerusakan ketika terjatuh ataupun ketika terkena benturan. Jadi, kesimpulan saya: orang-orang yang bawa motor gak pake helm dan masih saja nekat menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi, bisa jadi karena mereka udah tau dan sadar diri kalo mereka itu sebenernya memang gak punya otak. Jadi ngapain harus repot-repot pake helm, lha wong gak punya otak yang perlu dilindungi juga kan?



Omet

Punya banyak bakat terpendam, tapi lupa dulu dipendam di mana.

Post a comment

0 Comments