Sebuah Catatan Dari Orang Yang Pernah Terlalu Lama Sendiri


Sudah berapa lama kamu menjadi jomblo? Baru seminggu? Sebulan? Atau mungkin paling mentok tidak lebih dari satu semester? Tenanglah anak muda, hidupmu masih jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan saya. Percaya atau tidak? Saya pernah menyandang status sebagai jomblo selama kurang lebih 20 tahun. Iya... 20 tahun. Kenapa? Aneh ya? Mungkin memang aneh sih jika dibandingkan dengan anak-anak jaman sekarang yang cebok aja masih dicebokin tapi udah pada pacaran.

Banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai Jones a.k.a Jomblo Ngenes. Jika mereka yang merasakan tidak enaknya menjadi seseorang yang tidak memiliki pasangan baru sebulan dua bulan saja sudah merasa dirinya ngenes? Lalu bagaimana dengan saya yang merasakan getirnya hingga menahun? Kurang mengenaskan apalagi keadaan saya ini coba?

O iya, sebelum saya berbicara banyak, ngomong-ngomong standar umur orang boleh berpacaran itu berapa sih? Apakah saat sudah masuk usia sekolah? Atau saat seseorang perempuan sudah mulai mengalami siklus bulanan dan seorang laki-laki sudah mengalami mimpi basah? Masalahnya anak-anak jaman sekarang banyak yang mengalami puberitas dini. Jadi salah nggak yah kalo saya hitung ‘kejombloan’ saya mulai dari usia 0 tahun? 

Menjadi seorang yang tidak memiliki pasangan selama kurang lebih dua dekade, waktu yang saya miliki tidak saya buang-buang begitu saja tanpa ada usaha untuk bisa lepas dari status ‘sendirian’ saya. Buktinya, pertama kali merasakan suka sama lawan jenis saja saat saya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Lalu selanjutnya di tingkat SMP, SMA, bahkan sampai saya lulus sekolah, berkali-kali saya sudah merasakan jatuh cinta dan melakukan berbagai ‘pendekatan’, tapi ya berkali-kali juga saya harus menerima kenyataan bahwa saya memang ditakdirkan untuk ‘sendirian’ dalam jangka waktu yang lama. Saya tidak tau apa yang salah dengan saya? Apa yang salah dengan hidup saya? Apa yang salah dengan keadaan saya ini? Hingga membuat saya seperti seolah-olah mendapat sebuah ‘kutukan’ semacam ini. Kadang saya berpikir, katanya Tuhan menciptakan manusia untuk saling berpasang-pasangan, saya tengok kanan-kiri juga hampir semua teman-teman saya sudah berkali-kali bergonta-ganti pacar, tapi kenapa saya sendiri belum juga mendapatkan pasangan, apakah ini berarti saya bukan termasuk jenis manusia?

Saya adalah orang yang sering kurang beruntung dalam urusan percintaan. Entah mengapa saya lebih sering mengalami cerita tragis ketimbang pengalaman manis. Saya juga sering jatuh cinta, tapi saya lebih sering lagi terjatuh karena cinta. Dalam urusan sakit hati bisa dibilang pengalaman saya sudah cukup lengkap. Mulai dari mencintai seseorang yang ternyata mencintai orang lain, menahan untuk mencintai seseorang hanya karena dia mantannya teman, hingga mencintai seseorang yang ternyata lebih nyaman menjadikan hubungan kita hanya sebatas pertemanan. Yap, hampir semuanya merupakan pengalaman yang begitu getir. Bukankan menjadi korban PHP (Pernah Hampir Pacaran) adalah hal yang sangat menyakitkan?

‘Semua pasti bakalan indah pada waktunya...’,

Begitulah kalimat bijak yang sering saya ucapkan sebagai penghibur diri ketika sedang hopeless dan merasa sudah nggak bisa ngapa-ngapain lagi untuk bisa lepas dari berbagai macam hal tidak mengenakkan sebagai orang yang tidak memiliki pasangan. Entahlah, kenapa nasib saya bisa tidak seberuntung orang-orang kebanyakan, di mana mereka sepertinya dengan sangat mudah mendapatkan orang-orang yang diinginkan di dalam hidupnya. Padahal penampilan saya tidak jelek-jelek amat, cowok lain yang penampilannya jauh lebih jelek dari saya juga banyak. Tapi kenapa mereka seperti tak menemui kesulitan untuk bisa punya pasangan? Sedangkan saya sendiri merasa sangat kesusahan? Apa perlu penampilan saya dibuat lebih jelek lagi supaya bisa dengan mudah mendapatkan pacar?

Pada akhirnya saya sadar, problem yang paling mendasar yang membuat saya susah untuk mendapatkan pasangan bukan terletak pada penampilan, materi atau apapun itu yang tampak oleh mata, tapi pada ketidakberanian yang saya miliki. Saya selalu merasa terlalu takut untuk menghadapi kemungkinan terburuk ketika kita mulai menyukai seseorang, yaitu ditolak. Berkali-kali dekat dengan lawan jenis, berkali-kali juga dengan cara yang sama: kenalan → PDKT → bikin dia merasa senyaman mungkin dengan saya →  setelah dia udah nyaman, saya membuang-buang kesempatan buat nembak dia → akhirnya keduluan sama orang lain →  ujung-ujungnya saya nyesel dan akhirnya saya nangis kejer. Dan begitu seterusnya berulang-ulang sampe umur saya menginjak 20 tahun.

Selain masalah di atas, hal yang membuat saya awet menjadi orang yang tidak punya pasangan adalah: saya ini orang yang punya kemaluan rasa malu yang besar. Saya adalah orang yang tidak punya rasa percaya diri. Meskipun saya tidak memiliki rasa percaya diri, untungnya saya masih memiliki rasa percaya kepada Tuhan. Meski usaha saya selalu saja gagal, tapi saya selalu yakin bahwa di antara miliaran perempuan yang ada di belahan bumi ini, salah satu dari mereka adalah orang yang sudah Tuhan pilihkan sebagai jodoh saya.

Tuhan memang maha adil. Di usia saya yang menginjak seperlima abad, di mana saat itu saya sudah mulai melupakan usaha-usaha untuk mendapatkan pasangan dan berpikir bahwa pacaran bukanlah merupakan kebutuhan primer, masih banyak hal lain yang jauh lebih menyenangkan ketimbang pacaran. Ternyata di saat itu juga Tuhan justru malah mengirimkan seseorang yang kemudian menjadi pasangan hidup saya dengan cara yang sangat tidak terduga. Kita berdua dipertemukan pada saat kita sama-sama sedang menemani seorang teman yang sedang melakukan PDKT. Berberapa minggu setelah pertemuan pertama yang tak disengaja itu, akhirnya kita memutuskan untuk berpacaran. Sedangkan masing-masing teman dari kita yang tadi kita temani dalam melakukan PDKT sampai sekarang belum pernah terdengar kabarnya sudah jadian atau belum, yang saya tau terakhir keduanya masing-masing malah berpacaran dengan orang yang berbeda. 

Meskipun sering mengalami ketidakcocokan, tiga tahun berpacaran rasanya sudah cukup untuk membuat saya berpikir segera 'menghalalkan' hubungan kita. Akhirnya saya menikah juga dengan orang yang setelah sekian lama Tuhan rahasiakan.

Banyak yang berkata bahwa pacaran merupakan cara untuk memahami sifat dan karakter orang lain, pacaran juga merupakan sarana untuk melatih tanggung jawab. Itu bohong...!!! Sekali pacaran dalam seumur hidup bukan berarti membuat saya buta dalam urusan relationship, buta tentang bagaimana cara memperlakukan pasangan dengan baik, buta juga dengan bagaimana cara menyelesaikan masalah ketika kita sedang berselisih paham. Buktinya, meskipun rumah tangga saya sering dibumbui dengan perbedaan pendapat, pada akhirnya kita masih bisa tetap mesra kok. Malah saat ini kita sudah dikaruniai seorang puteri yang cantiknya tidak kalah dari ibunya.

Jadi, intinya jangan takut menjadi jomblo guys!!! Jangan khawatir kalau Tuhan tidak menyisakan jodoh buat kamu, semua pasti kebagian.

Begitulah kira-kira yang bisa saya tuliskan, mudah-mudahan bisa menginspirasi. Jika belum menemukan bagian mana dari tulisan di atas tadi yang bisa menginspirasi, cobalah untuk membaca ulang lagi dari awal. Jika belum ketemu juga, mungkin tulisan ini memang tidak inspiratif. Hehehe.


Omet

Punya bakat terpendam, tapi lupa dulu dipendam di mana.

Post a comment

0 Comments