Nasionalisme?


Baiklah... Akan saya awali tulisan ini dengan pertanyaan:

"Kapan terakhir kali kamu hormat kepada bendera Merah Putih?"

Coba deh kamu ingat-ingat lagi... Kalau sudah ingat dan jika berkenan, silahkan jawab di kolom komentar. Terima kasih.

Jujur, saya sendiri terakhir menempelkan jari tangan di kening sambil menghadap ke bendera Merah Putih, kalau tidak salah ingat sih pada tanggal 17 Agustus 2008 silam, tepatnya saat saya masih berstatus sebagai pelajar dulu... Sampai di bagian ini, menurut kalian ini aneh nggak sih? Jadi itu artinya setelah lulus sekolah saya sudah tidak pernah lagi hormat kepada bendera negara di mana saya hidup dan mencari makan ini. Apakah ini menandakan bahwa saya tidak nasionalis?

Saya rasa sebagian dari kalian sepakat dengan saya, bahwa nasionalisme seseorang tidak bisa hanya diukur dengan seberapa sering melakukan penghormatan terhadap bendera negara saja. Toh orang-orang yang pernah diambil sumpahnya di bawah kitab suci untuk mengabdi kepada negara saja masih banyak yang melakukan tindakan yang dapat merugikan negara (korupsi), apalagi yang cuma sekedar hormat kepada sebuah bendera saja?

Sebelum lanjut ke paragraf berikutnya, di bawah ini adalah definisi nasionalisme yang saya jadikan acuan untuk menulis apa yang tertulis di sini, biar kita sepaham:

Pengertian Nasionalisme menurut Wikipedia:

Nasionalisme/na·si·o·na·lis·me/ n 1 paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: -- makin menjiwai bangsa Indonesia; 2 kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Pengertian Nasionalisme menurut http://pancasila.weebly.com:

Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, dengan demikian masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri.

Intinya, saya menyimpulkan bahwa nasionalisme adalah sikap kecintaan dan kesetiaan terhadap negara.

Oke... Lanjut...

Sedikit cerita, memang saya sudah tidak pernah lagi hormat kepada bendera Merah Putih juga bukan karena disengaja. Setelah HUT RI ke-63  berlalu, saya hijrah ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sejak saat itulah saya sendiri sudah tidak pernah lagi menemui kegiatan upacara, bahkan pada saat perayaan kemerdekaan sekalipun yang jatuhnya setahun sekali dan umumnya diikuti oleh berbagai kalangan, saya sudah tidak pernah lagi ikut. Lah emang di daerah tempat tinggal saya tidak ada sama sekali upacara bendera di Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ya? Ya mana saya tau, lah wong 8 tahun tinggal di sini aja saya masih belum tau letak lapangan bola yang biasanya dijadikan lokasi acara buat upacara itu di mana? Asli, di Jakarta ini saya tergolong sebagai manusia yang kuper sekali.

Mungkin lain lagi ceritanya jika saya bekerja di sebuah instansi milik pemerintah, saya bekerja menjadi PNS atau menjadi militer yang punya banyak kesempatan untuk hormat kepada Merah Putih. Setidaknya saya akan menjumpai banyak momen untuk menerapkan sebagian kecil dari simbol nasionalisme. Sebab, kalau dari pengalaman saya, ada kalanya hati saya akan bergetar sekaligus bangga saat sang Merah Putih berkibar dengan gagah sambil diiringi oleh lagu Indonesia Raya. Entah orang lain.

Dari pengamatan saya (mudah-mudahan saja ini salah), hormat kepada Merah Putih secara rutin saat ini hanya ada di sekolahan dan di instansi-instansi pemerintah, bahkan di kampus pun menurut beberapa sumber sudah tidak ada lagi kecuali saat Ospek. Intinya, selain saya, pasti banyak orang di luar sana yang sama seperti saya (sudah lama tidak hormat dengan bendera merah putih).

Saya lupa dari mana sumbernya, entah dari guru saat sekolah dulu atau entah dari buku/tulisan yang saya baca. Katanya jaman dahulu, ketika bendera Merah Putih sedang dikibarkan di sekolah yang ada pinggir jalan, para pengguna jalan yang ada di sekitarnya diberhentikan sebagai tanda hormat kepada Merah Putih. Tapi apa yang terjadi sekarang? Peserta upacara-nya sendiripun kadang enggan mengangkat tangan sebagai tanda hormat kepada Sang Merah Putih. Malah sebagian besar pelajar saat ini merasa malas ketika berjumpa dengan hari senin, tentu saja selain karena awal pekan, hari senin adalah harinya upacara bendera.

Disadari atau tidak, nasionalisme kebanyakan orang saat ini bangkit hanya sebatas saat menonton Tim Nasional kita sedang bertanding di lapangan saja, di luar itu ya lupa kalau banyak contoh lain yang lebih dekat dengan keseharian kita untuk mencerminkan bentuk cinta kita kepada negara. Bahkan untuk cabang olahraga lainnya, meskipun atlet nasional kita sedang berjuang mewakili negara, orang-orang biasa saja melihatnya, sama sekali tidak terpantik rasa nasionalisme-nya. Setuju nggak sih?

Beralih ke berita yang baru-baru ini viral di media sosial, entah ada unsur kesengajaan atau tidak, gambar bendera kebanggaan Indonesia tercetak terbalik di event SEA Games 2017. Bendera yang seharusnya Merah Putih, dibalik menjadi Putih Merah. Tentu saja hal ini memancing banyak reaksi negatif oleh netizen Indonesia. Terlebih-lebih yang melakukan adalah negara Malaysia, negara tetangga terdekat kita yang sering berulah terhadap negara kita.

Banyak sekali bentuk protes orang-orang Indonesia yang ditunjukan kepada Malaysia di dunia maya. Mulai dari menumpahkan sumpah serapah yang ditujukan kepada negara Malaysia di status media sosial milik pribadinya (padahal dia sendiri belum tentu difollow sama orang Malaysia). Ada juga yang mention kepada Bapak Presiden RI agar Siti Nurhaliza dan Upin Ipin dinaturalisasi menjadi WNI (lah ini apa urusannya sama Siti Nurhaliza dan Upin Ipin?), bahkan ada juga yang mengajak perang negara Malaysia (ini orang pada kebanyakan main game COC kali ya? Dipikir dampak perang itu enak). Dari situ bisa dilihat betapa lucunya bentuk kemarahan dan kekecewaan kita yang di media sosial.

Pada intinya sih, reaksi mereka timbul karena mereka tidak terima martabat bangsa dilecehkan. Yang disayangkan di sini mereka melakukannya hanya sebatas di dunia maya. Saya jadi ngebayangin, kalau seandainya orang-orang yang rame di media sosial seperti ini bakal stress kali ya kalau di ajak ke Polandia, di sana kan bendera Indonesia kebalik semua. Hehehe... Oh iya, sampai lupa, pertanyaan saya : Apakah hal ini mencerminkan bahwa orang-orang yang bereaksi keras atas apa yang dilakukan oleh negara malaysia ini bisa dikatakan sebagai orang-orang yang nasionalis?

Lalu bagaimana dengan reaksi saya dalam menanggapi hal ini? Apakah saya ikut mencak-mencak? Ikut-ikutan mencaci maki bangsa Malaysia? Jujur, kalo ditanya tersinggung atau tidak? Sudah pasti saya tersinggung. Perkara malu saya juga sebenarnya malu ketika bangsa kita seperti direndahkan oleh bangsa lain. Tapi sayangnya saya lebih malu lagi kepada diri saya sendiri yang ngakunya warga negara Indonesia tapi sudah lama tidak hormat dengan bendera sendiri. Sama bendera Merah Putih saja sudah lama tidak hormat, sok-sokan bela-belain bendera negara kita yang dibalik sama Malaysia. Bukannya, apa-apa. Saya juga mikir... Toh mau protes seperti apa pun, kan sudah ada orang-orang di sana yang lebih berwenang untuk menanggapi hal ini. Ya kita tinggal tunggu aja tindakan apa yang terbaik bagi malaysia untuk mempertangung jawabkan kesalahannya.

Sekali lagi, nasionalisme seseorang tidak bisa diukur hanya dengan rutin hormat kepada bendera Indonesia setiap kali mengikuti upacara, tidak bisa hanya dengan menjadi pendukung saat Tim Nasional kita sedang bertanding, tidak bisa juga hanya dengan ikut-ikutan kebakaran jenggot di dunia maya ketika ada bangsa atau negara lain dianggap melecehkan negara kita. Saya rasa definisi nasionalme tidak sesempit itu. Banyak kok hal sederhana yang dekat dengan keseharian kita yang bisa dilakukan sebagai bukti nyata sikap nasionalisme kita. Misal nih ya, buat kalian yang masih sekolah, sudahlah... mending belajar saja yang rajin, lulus dengan nilai yang baik terus kuliah yang bener, Indonesia butuh orang-orang yang pinter dan berbudi lho. Atau jika kamu seorang yang suka berkarya, buatlah karya yang bisa membuat bangga negara, saya percaya orang Indonesia itu pada kreatif-kreatif kok. Atau kalau kamu kebetulan menjadi pengangguran, ya sudah banyakin aja waktu buat mencari pekerjaan yang layak, usaha lebih keras lagi, lebih bagus lagi kalau kamu bisa membuat sendiri sebuah lapangan kerja, setidaknya peran pemerintah menjadi sedikit lebih ringan. Tapi kalau kamu bukan termasuk pelajar, pekerja, ataupun pengangguran (saya sendiri juga bingung orang-orang ini masuk golongan apa), jalani saja hidup sesuai dengan aturan yang sudah dibuat oleh negara, serta jauhi apa yang bertentangan dengan hukum, jangan malah jadi orang yang merepotkan negara.

Kalau kamu mempertanyakan tentang ke-nasionalisme-an saya? Apa yang sudah saya perbuat bagi negara sebagai simbol kecintaan saya? Jawabannya, tentu saja salah satunya adalah dengan menulis hal-hal yang positif, kreatif dan inspiratif di mendadakmendidik.com ini. Hehehe...


Omet

Punya banyak bakat terpendam, tapi lupa dulu dipendam di mana.

Post a comment

0 Comments