The Perks of being a Jobless



Ini adalah kali kedua saya menjadi seorang jobless dalam sepanjang sejarah saya merantau. Kok resign sih? Kenapa resign, kan kerjaan udah enak? Kenapa resign, mau kawin ya? dan kenapa sih masih ada orang-orang yang berpikir bumi ini datar? Hah? KENAPA? KENAPAAAAA??

Saya yakin nggak ada satupun orang yang kepengen jadi pengangguran, seenggaknya dia nggak kepengin nggak ngapa-ngapain. Orang yang pikirannya sudah terbiasa disibukkan akan merasa istilah kalau pada sendi adalah pegal-pegal dan nyeri jika tidak dipakai. Saya sudah pernah mengalami itu sekitar 3 tahun lalu, rasanya gimana? Mati gaya banget dan nggak betah di rumah. Padahal jika hari-hari kerja dan dibuat misuh-misuh sama kerjaan, leyeh-leyeh di rumah itu menjadi impian. Dan sekarang malah kebalikannya. Namanya juga kehidupan ya, roda kan berputar cuma rodanya semen tiga roda aja yang anteng, kok pada nggak ketawa sih? Ketawa donk hargai joke receh saya. Setiap pilihan pasti akan ada konsekuensi sendiri, mau nggak mau suka nggak suka ya dijalani saja, toh di dunia ini semua akan segera berlalu. Yang sedih ya nggak akan selamanya sedih, seneng ya nggak akan selamanya seneng, dan yang saya rasain sekarang juga bakal segera berlalu. Setiap pengangguran pasti akan menemukan pekerjaan.

Saya iri sama teman-teman yang ketika resign tanpa waktu lama sudah menemukan pelarian, alias bisa mendirikan usaha sendiri. Saya juga pengen seperti itu, ada niatan tapi saya juga nggak bisa tutup mata gitu aja sama kenyataan. Butuh pemikiran kalau saya, harus matang nggak mau setengah-setengah dan ngga mau gegabah asal punya usaha aja tapi nggak kemana-mana mubazir itu modal, yee nggak? Ada temen semprul saya kasih ide, udah kawin aja dia bilang, saya kasih emoji senyum aja di chat, padahal dalam hati ingin berkata kasar dan meruqyah dia; Nikah sama siapa? Emang saya ini keliatan banget ngebet nikah gitu? Helaaaaawwww.

Saya tiap ditanya sama tetangga atau sesiapa aja kenapa sekarang di rumah dan nggak merantau lagi saya selalu kalem menjawab bahwa saya lagi pengin istirahat dulu lalu mereka langsung mendukung dengan bilang bahwa itu memang perlu mengingat saya sudah merantau sejak dulu. Padahal ya, saya juga rajin tuh ngelamar online, tanya teman barangkali ada info lowongan kerja, setiap pagi mikir ini mau ngapain nih hari ini biar nggak kosong-kosong amat pikiran, palingan ya main twitter dan facebook, udah lama nggak buka instagram ,ngirit kuota cuy. Mereka nggak tau aja kan kalau saya juga udah ngebet mau kerja lagi, biar apa? Biar dream list saya kecoret satu persatu. Dan saya bisa ngikut teman-teman saya nanjak lagi, karena berbagai alasan saya memilih untuk nggak ikut, ntar juga lama-lama tau alasannya kenapa.

Kesannya jadi pengangguran itu menyeramkan ya, padahal kenyataannya malah justru menyeramkan sekali, hahaha. Nggak denk bercanda kalau saya cerita yang serem-seram aja lalu kenapa saya bikin tulisan ini dengan judul The Perks of being a Jobless? Saya diajarin untuk melihat sesuatu bukan cuma dari satu sisi aja, sisi gelap pengangguran ya gitu kan, dihantui rasa mati gaya, bosan dan stress karena nggak ada kegiatan. Tapi untuk saya, ada beberapa hal yang bikin saya bersyukur bahwa saat ini saya adalah seorang Jobless.

Baca juga artikel menarik tentang bagaimana peran serta dunia digital dalam membantu perekonomian negeri: #BukaInspirasi di Era Revolusi Industri 4.0

Makan satu meja tiap waktu dengan keluarga. Nggak dengan keluarga juga sih, cuma sama mama seringnya. Pernah suatu malam saya makan nasi goreng sendirian di kamar kostan dan baru sesuap pertama air mata saya netes kangen rumah dan kangen makan bareng keluarga, rasa nyesek di dada bercampur sama lapar perut. Tapi karena sekarang saya sudah tidak lagi merantau jadi makan tiap hari bareng mama bukanlah hal yang mustahil. Bonus ada yang masakin, tinggal makan nggak perlu repot menyiapkan. Paling sesekali bantu iris cabe bawang merah. Nikmatnya pol.

Bangun pagi tanpa tergesa-gesa. Pas masih kerja saya tuh nggak pernah yang namanya nggak buru-buru, kalau jam 06.10 saya belum keluar kostan dan masih ribet dengan dandanan saya bakal panik, itu artinya 70% saya bakal terlewat tebengan. Yang artinya, jika saya ketinggalan tebengan, saya akan lebih panik lagi karena saya pasti akan telat masuk kerja. Tapi sekarang, saya bangun pagi nggak akan terburu-buru, selepas shubuh saya akan berleha-leha, kadang kembali meringkuk ke dalam selimut dan mama saya yang berhati malaikat itu tidak akan mempermasalah kelakuan anak gadisnya yang cantik nan jelita ini.

Bisa menghadiri Syawalan di rumah mbah saya di Magelang. Kalau saya masih kerja mana bisa ya berlama-lama di sana, untungnya kan dikasih rejeki menjadi seorang pengangguran yang tidak terikat waktu jadi sesuka hati mau nambah jatah libur berapa hari. Dan selama di Magelang saya bisa menghasilkan satu tulisan. Ini jarang terjadi lho, saya biasanya males banget buat langsung nulis dan ngelarin tulisan. Kadang bisa sampai setengah bulan tulisan bisa kelar. Karena ya selain males, capek dan waktunya nggak ada pasti selalu jadi alasan. Menulis itu hobi sebenarnya, meski minim apresiasi tapi rasanya saat ini menulis buat saya adalah alihan biar stay normal dan mengurangi resiko stress karena nganggur, emang yang kerja doank yang bisa stress pengangguran juga bisa. Cuma yang kerja bakal terobati saat gajian tiba, kalau yang nganggur mah cukup berdoa aja. Apaaa sih ini hahaha.

Anteng di depan tivi kalau pagi nontonin India. Kalau ini sih jawaban teman saya. Dia bisa anteng sepagian sambil momong keponakannya nonton serial India. Nggak apa-apa sih nonton India sampe gumoh dan sampe gaya bicaranya ngikutin orang India, geleng-geleng kaya boneka di lampu merah, yang saya khawatirin adalah takut temen saya ini kehilangan jati dirinya gara-gara terbawa emosi nonton India hahaha. Kalau kerja mana bisa ya nonton India. Untungnya dia nganggur jadi bisa nonton India sesuka hati dan serial ini juga marathon rupanya, dari pagi sampai sore. Apa ndak mabuk itu yaaa? Dan kalau saya, bukan India yang saya tonton pagi-pagi, melainkan kartun, Sarah Sechan, gossip selebriti dan jika sudah agak siangan akan ada berita kriminal meski saya sudah tau duluan dari twitter namun visual juga kan saya perlu tau ya.

Lupa rasanya deg-degan pas janjian untuk ketemuan sama seseorang, dan kali ini saya ngerasain kembali dan rupanya saya harus jadi pengangguran dulu untuk bisa merasakan yang namanya dicintai sama seseorang. Bentuk dari ke-Maha Adil-an sang Pencipta. Saya nulis paragraf ini sambil mesam mesem, dan kebayang nanti orang yang saya maksud bakal baca tulisan ini dan langsung kegeeran luar biasa. Biarinlah sesekali nulis yang ada cinta-cintaan biar nggak dikira ngenes seumur hidup. Hahaha

24 jam dekat dengan keluarga dan saudara. Literally, bener-bener dekat. Setiap hari saya akan bertemu sama saudara. Tiap hari bisa haha hihi sama mereka. Menjalin silaturahmi dan tau cerita atau sesuatu yang tadinya saya nggak tau karena saya merantau melulu. Sekarang saya di rumah, bisa tau keadaan mereka karena jarak rumah nggak bisa dijadikan skala kalau di peta saking deketnya. Priceless banget.

Di atas itu cuma beberapa sih, kalau mau ditulis semua bakal banyak banget, kaya saya yang merasa bahagia ketika jalan sendirian ke pasar untuk sekadar membeli 1 atau 2 kg tepung terigu dan bisa leluasa menyapa mbah-mbah atau mbak yu yang berangkat ke ladang sawah ketika pagi, mendapat balasan senyum dari mereka atas pertanyaan basian saya. I found my happiness and i found my ‘water’ here. Istilah Water ini saya kutip dari novel kesukaan saya, Antologi Rasa yang ada di halaman terakhir, yang mengutip buku David Foster Wallace yang berjudul This is Water. Dan karena nganggur juga saya punya banyak waktu luang untuk membaca kembali novel-novel yang berjajar rapi di atas lemari televisi.


Saya liat tweet di atas, lalu saya nggak bisa bilang apa-apa selain mengiyakan dalam hati. Lewat tulisan ini saya cuma berusaha menyampaikan apa yang saya afirmasi setiap hari dan biar bagaimanapun situasinya, akan selalu ada hal baik di dalamnya, akan selalu ada sisi yang jika kita sadari akan mengarah pada tengadah tangan untuk bersyukur. Bahwa tidak ada yang abadi kecuali yang menciptakan kita. Bagi teman-teman yang sudah merasa lelah karena pekerjaan, merasa tertekan karena tuntutan dari atasan, bertahanlah sebentar karena semua akan berganti masa. Ingat bahwa banyak yang menginginkan ada di posisi saat ini. Dan bagi teman seprofesi saya, bersabarlah yaa mungkin belum saatnya kita dipercaya untuk bekerja lagi. Belum waktunya kita, karena saat di Indonesia siang , di Barcelona sana justru sudah malam. Bukan mau ngomongin jam dunia, tapi memang semuanya sudah ada jadwalnya sudah dicatat jatah waktunya. Semoga kita sepaham ya.

Dan saya tiap hari menyemangati diri sendiri, dengan tetap yakin bahwa everything i feel right now, shall pass berpikir positif itu penting disaat-saat seperti ini. Gampang? Oh tentu tidak. Tapi ya itulah seninya kan, mungkin dengan begini saya akan lebih menghargai sesuatu yang bernama proses, proses apapun, menuju ke manapun.

Agnes Sucitra

A Weirdo.

Post a comment

1 Comments

  1. Semangat... Jalan rezeki pasti ada buat semua orang yg mau berusaha. Pokoknya harus terus memperbaiki kualitas diri biar dapat jalannya.

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)