Jangan Bodoh Mencari Jodoh


Apa yang kamu ketahui tentang konsep jodoh? Apakah ketika kamu bertemu dengan seseorang yang baru tapi kamu sendiri merasa seperti sudah lama mengenalnya bisa dikatakan bahwa kamu dan dia berjodoh? Atau mungkin orang yang hampir selalu se-iya se-kata denganmu bisa disebut juga sebagai jodoh kamu? Atau jangan-jangan jodoh adalah orang yang saat ini sudah menjadi pasangan orang lain tapi kamu masih aja setia menunggunya? Atau mungkin kamu punya pendapat lain? Terserah. Yang pasti setiap orang punya pandangan sendiri terhadap konsep jodoh.

Jodoh memang bukan satu-satunya tujuan kita hidup di bumi ini, masih ada karir, cita-cita dan sebagainya yang mesti kita kejar di muka bumi ini. Sekadar ngingetin aja, jangan lupa ya kalau mencari pasangan atau jodoh juga merupakan suatu ‘perintah’ Tuhan kepada kita.

Mungkin kamu pernah mendengar bahwa ada seseorang yang telah Tuhan persiapkan untuk mendampingi hidup kita nanti, dan orang tersebutlah yang sering kita sebut dengan jodoh. Dan hal tersebut sepertinya sudah menjadi definisi standar, bahwa jodoh adalah orang yang akan menjadi pendamping terakhir hidup kita nanti, tidak peduli meskipun saat ini dia sedang menjadi suami atau isteri orang lain. Mau bekas orang lain atau bukan ya itulah jodoh kamu.

Bagi saya, mempelajari tentang konsep jodoh yang ada di sekitar kita itu merupakan sebuah hal yang cukup menarik. Bagaimana tidak? Coba deh kamu perhatikan lagi sekeliling kamu. Ada yang sudah sekian lama pacaran, tapi karena suatu ketika mereka menemukan sebuah ketidakcocokan, akhirnya mereka pun berpisah. Menariknya setelah berpisah, salah satu diantaranya bertemu lagi dengan seseorang yang baru kemudian langsung menikah, tanpa harus pacaran lama. Ada juga yang harus berkali-kali pacaran baru bisa menemukan pasangannya yang sejati. Tapi ada juga, yang tidak pernah sekalipun pacaran, sekalinya pacaran malah langsung menikah. Bahkan ada juga yang dijodohkan oleh orang tua mereka dan ternyata mereka malah awet seumur hidup. Tapi sebaliknya, ada juga yang digadang-gadang sebagai pasangan yang ideal tapi ternyata beberapa bulan kemudian bercerai dan menikah kembali dengan mantan pacarnya. Gimana menurut kalian? Menarik sekali bukan? Ok, nggak apa-apa juga sih kalo memang menurut kamu nggak menarik.

Kalau boleh sok tau, berikut ini saya akan menuliskan beberapa pengamatan serta pendapat pribadi saya terhadap konsep jodoh yang ada di sekeliling kita. Kalaupun nantinya kita sepemikiran atau nggak itu bukanlah sebuah perkara. Yang penting dibaca aja dulu sampai selesai, siapa tau kamu terhibur…

Baiklah, langsung saja…

Perempuan (jodoh) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. 

Banyak orang yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang menjadi jodohnya. Bener nggak sih? Ya nggak bener dong ah... Asal tau aja, proses tersebut hanya terjadi sekali saja dalam sejarah, dan itu hanya terjadi pada nenek moyang kita, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa. Jadi manusia setelahnya udah nggak ada lagi yang diciptakan dari tulang rusuk laki-lakinya. Yang ada, perempuan ya diciptakan dari pertemuan sel sperma dan indung telur orang tuanya masing-masing, sama kayak laki-laki.

Jodoh itu misterius.

Sebagian besar orang menemukan jodohnya dengan cara yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Semua seakan terjadi tanpa direncanakan. Bahkan mereka yang sudah berpacaran sekian lama pun belum tentu menjadi sebuah jaminan bahwa hubungan mereka akan berakhir di pelaminan. Atau mungkin mereka yang sudah menjalin persahabatan dengan sekian banyak orang, tidak menjadi jaminan kemudian dia berjodoh dengan salah satu di antaranya. Bisa jadi orang tersebut malah berjodoh dengan orang yang baru dikenal. Ya, kurang lebih semisterius itulah jodoh.

Menurut pengamatan saya, kesalahan yang paling sering dilakukan banyak orang adalah: orang yang saat ini menjadi pasangan kita diyakini bahwa dia adalah jodoh kita. Padahal belum tentu juga. Hal inilah yang akhirnya membuat pandangan kita menjadi sempit terhadap konsep jodoh. Jadi suatu saat ketika terjadi perpisahan dengan orang yang kita yakini sebagai jodoh kita tadi, kita menjadi merasa seolah-olah kalau kita udah nggak akan punya jodoh lagi. Mengakibatkan kita jadi nggak bisa move on dan berujung pada galau yang berlarut-larut serta akut. Padahal kalau kita mau membuka pikiran dan berlapang dada, saya yakin di luar sana Tuhan udah nyiapin seseorang yang lebih tepat dari yang sebelumnya.

Jodoh itu ada di tangan Tuhan.

Jodoh memang sebuah rahasia. Tidak ada satu orangpun yang tahu dengan siapa kita akan berjodoh. Meskipun ‘jodoh di tangan Tuhan’ itu mungkin cuma sebatas perumpamaan, tapi bagaimana jika seandainya hal tersebut benar? Bagaimana jika jodoh seseorang ternyata benar-benar Tuhan yang pegang? Yang jadi masalah adalah kita sendiri tidak pernah tau jodoh ada di tangan Tuhan yang mana? Tangan yang kanan atau yang kiri? 

Tapi sebagai orang yang punya iman, kalau kamu memang bersungguh-sungguh ingin ‘mengambil’ jodoh dari tangan-Nya, mau itu jodoh di tangan yang kanan ataupun di tangan kiri itu bukanlah urusan penting, yang penting mah deketin aja dulu yang pegang, siapa tau nanti setelah melihat usaha dan jerih payah kamu, Tuhan akan berkenan dan memberikan jodoh tersebut kepada kamu.

Terus gimana caranya kita bisa deketin yang pegang jodoh? Ya pikir sendiri dong ah… udah gede ini…

Jodoh itu mukanya mirip.

Hal ini bukan berarti kalo kamu kebetulan punya wajah yang ganteng terus pasangan kamu nanti bakalan ganteng juga. Bukan, bukan begitu maksudnya. Tapi menurut orang-orang yang percaya akan teori ini yakin bahwa dua orang yang saling berjodoh cepat atau lambat maka keduanya akan memiliki garis-garis wajah yang serupa. Believe it or not?

Entah dari mana teori tersebut berasal, tapi yang jelas saya sendiri sih agak susah menemukan contoh konkritnya. Yang pasti ada ajalah orang-orang yang percaya dengan hal ini.

Jodoh itu udah ada yang ngatur.

Perlu diketahui bahwa rejeki, nasib, maut dan termasuk juga dengan jodoh itu sudah ada yang mengatur, bahkan sudah diatur sedemikian rupa saat kita masih berada dalam kandungan. Tapi satu hal yang saya yakini, bahwa jodoh adalah termasuk takdir bisa kita ubah melalui upaya yang kita lakukan. Kamu boleh banget kok berusaha untuk mencari jodoh sesuai dengan keinginan kamu. Tapi kalau kamu udah mati-matian berusaha buat memiliki apa yang kamu harapkan sebagai jodoh kamu dan pada akhirnya ternyata usaha kamu itu sia-sia, ya udah. Mungkin dia memang udah diatur untuk menjadi jodoh orang lain, bukan jadi jodoh kamu. Kalau takdir udah ditulis sedemikian rupa ya mau gimana lagi? Mau protes? Silahkan, coba aja kalau bisa.

Melihat orang yang kita yakini setengah mati bahwa dialah jodoh kita, tapi ternyata dia malah menjadi jodoh orang lain itu memang teramat sangat menyesakkan, tapi yakin aja sih selama detik masih terus berdetak, lama-lama kamu juga akan mengerti sendiri, bahwa Tuhan nggak mungkin salah mengatur jodoh seseorang.

Jodoh bisa kita request.

“Jodohku maunya ku dirimu…”

Mungkin di antara kamu pernah mendengar potongan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Mas Anang dan Mbak Ashanty di atas, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan ‘Mungkinkah jodoh itu bisa kita request?’

Kalau menurut saya pernyataan tersebut bisa benar, bisa juga salah. Semua balik lagi ke permasalahan takdir. Sebab yang saya tau ada dua macam takdir di dunia ini, yaitu: takdir yang bisa kita ubah dengan cara ikhtiar dan satunya lagi adalah takdir mutlak yang sudah tidak bisa lagi kita otak-atik.

Mengutip quote dari Mario Teguh :

“Jodoh adalah bagian dari nasib, dan nasib ditentukan oleh kebaikan upaya kita. Semakin bersungguh-sungguh kita berupaya mengindahkan pribadi, semakin indah belahan jiwa kita”.

Dari kalimat tersebut bisa saya simpulkan bahwa jodoh itu ibarat seperti sebuah rewards, you get what you give. Jadi kalo perilaku kamu selama ini baik, maka kamu akan mendapatkan jodoh yang baik pula, begitu juga sebaliknya. Jadi kurang lebih intinya kamu bisa menentukan sendiri jodoh yang seperti apa yang kamu inginkan tergantung usaha kamu.

Kalau jodoh pasti tak akan kemana-mana.

Perlu saya luruskan, bahwa ungkapan kalo jodoh pasti tak akan kemana-mana, bukan berarti kalo kamu diam aja nggak kemana-kemana dan nggak ngapa-ngapain tiba-tiba secara ajaib jodoh bisa datang begitu saja menghampirimu. Kalau seperti itu yang terjadi, yang ada nggak bakalan ada lagi jomblo yang berkeliaran di tempat-tempat nongkrong, sebab jomblo tentu akan lebih memilih untuk mengurung diri di pojokan kamar.

Yang benar adalah seperti yang saya dan jutaan orang di muka bumi ini yakini, bahwa dua orang yang sudah ditakdirkan untuk berjodoh, apapun yang terjadi pada akhirnya mereka akan bersatu juga.

Intermezzo :

“Kalau kebetulan kamu penganut teori 'Kalau jodoh pasti tidak akan kemana-mana'. Dan sampai saat ini kamu belum juga bertemu dengan jodohmu, bisa jadi jodohmu juga adalah orang yang menganut teori yang sama. Kalau kalian sama-sama saling menunggu dan salah satu nggak ada mau yang menjemput, lalu bagaimana cara kalian bisa bertemu?”.

Kutipan di atas saya ambil dari coretan yang ada di instagram saya. Tujuannya jelas, saya ingin membuat kamu menjadi semakin bingung. Hahaha…

Jodoh ada yang panjang ada juga yang pendek.

Pada beberapa kasus yang telah terjadi, dua orang yang saling mencintai ataupun tidak pernah saling mencintai sama sekali sebelumnya (dijodohkan) kemudian mereka menikah dan membangun rumah tangga, namun pada akhirnya ternyata mereka tidak bisa bertahan lama, lalu mereka bercerai, dan kemudian mereka menemukan lagi pasangan barunya masing-masing, dan selanjutnya mereka menikah kembali (dengan pilihannya masing-masing). Nah kalau kayak gini lantas yang mana yang sebenarnya layak disebut dengan jodoh? Apakah pasangan yang pertama? Yang kedua? Atau bahkan dua-duanya itu jodoh?

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu saya pernah berdebat tentang konsep jodoh dalam situasi seperti ini dengan isteri saya. Saya berpendapat bahwa jodoh mereka adalah pasangan mereka yang kedua, atau orang yang terakhir menjadi pendamping hidupnya, sedangan isteri saya berpendapat bahwa kedua-duanya baik pasangan yang pertama maupun yang kedua adalah jodoh mereka. Lalu isteri saya beropini bahwa orang tersebut dengan pasangan yang pertama itu jodohnya pendek, sedangkan dengan pasangan yang kedua ya tinggal ditunggu aja apakah jodohnya sama pendek juga atau malah justru panjang, sebab bisa aja kan orang tersebut pada akhirnya memutuskan untuk bercerai atau mungkin malah ditinggal mati lalu menikah lagi dengan pasangannya yang ketiga?

Dari situ entah kenapa saya menjadi punya asumsi baru mengenai konsep jodoh, yaitu jodoh seseorang itu bisa panjang bisa juga pendek, kayak celana.

Terakhir, dan merupakan bagian terpenting dari sekian panjang lebar tulisan saya dari atas hingga tadi yang juga mungkin merupakan sebuah kabar baik bagi yang belum ada jodoh:

Tuhan sudah menjamin bahwa setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing.

Yakinlah bahwa dari sekian miliar orang yang berkeliaran di muka bumi ini, nggak tau cowonya berapa, ceweknya juga berapa, yang jelas salah satu di antara mereka udah Tuhan persiapkan buat jadi jodoh kamu nanti. Percaya deh…


Omet

Punya banyak bakat terpendam, tapi lupa dulu dipendam di mana.

Post a comment

2 Comments

  1. "Jodoh adalah bagian dari nasib, dan nasib ditentukan oleh kebaikan upaya kita. Semakin bersungguh-sungguh kita berupaya mengindahkan pribadi, semakin indah belahan jiwa kita”. setuju dg yg ini... orang baik2 jodohnya ya baik pula, kalau orang kurang baik jodohnya orang baik berarti bonus dari Tuhan....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin saya termasuk salah satu orang yang dapet bonus dari Tuhan ya bu? ;p

      Delete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)