No Prasangka


Umum kali yah dalam diri setiap manusia punya prasangka? Entah itu prasangka buruk ataupun prasangka baik. Dan terkadang prasangka itu selalu tidak pada tempatnya, bener nggak sih?

Contoh sederhana, saat aku pergi keluar rumah, aku sering melihat ada wanita yang memandangiku dengan aneh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah kenapa aku langsung  berpikiran buruk. Wanita ini liatin aku terus, apa karena pakaianku yang norak, nggak modis, atau mungkin kampungan sampai membuat matanya  terus memandangiku? Apakah benar yang aku sangka kan ini? Belum tentu.

Maklum, aku kan nggak punya keahlian membaca pikiran orang, bisa saja dia memuji wajahku yang bersih bebas jerawat, meski kulitku tak seputih wanita itu. Berbeda dengan dia, meskipun kulitnya putih tapi terdapat ‘bintang-bintang’ memerah yang mengganggu di area pipi dan dahinya. Bisa saja kan dia ingin tau perawatan apa yang aku pakai? Atau barangkali ke salon mana aku merawat wajah? Karena malu bertanya makanya dia terus memandangku. Hihihihihi... Sisi jahat ku tertawa.

Atau yang lebih extreme lagi. Dan ini pun pasti sangat umum terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering sekali berprasangka kalo hidup orang lain itu kok lebih enak, sementara aku sendiri harus jungkir balik tapi tetap saja hasilnya nol? Bener nggak? Padahal prasangka itu bisa saja sedikit meleset bahkan bisa jadi malah zonk.

Pasti semua pernah mengalami. Kadang orang lain selalu membandingkan hidup kita dengan hidup mereka atau sebaliknya (kita..? lu aja kaliiii...! Hihihi…). Aku sering mengalami berada dalam situasi di mana orang lain berprasangka dengan hidupku yang bermacam-macam, ada yang bilang kok cepet banget dia kaya padahal kan kita semua tau hidupnya dulu kaya gimana, tidur aja masih numpang di rumah orang tua, tapi kenyataannya... Hellooo... Prasangka anda salah... 

Kaya...? Apa karena dulu aku menikah dengan suami yang belum punya penghasilan dan ketika sampai di dalam level ini aku dianugerahi titel sebagai orang kaya? Prasangka anda keliru lagi kali ini. Rumah yang aku tinggali saat ini cicilannya masih 10 tahun lagi, mobilku baru nyicil belum setahun, kadang gaji suami cuma numpang lewat untuk menutupi semua hutang. Demi menyambung hidup hanya bisa menabung indomie sedus untuk bekal makan sehari-sehari. Malah sebenarnya  aku pengen ngerasain hidup seperti kamu yang kayanya enak, meski makan ikan asin plus sambal tapi nyaman dan bebas hutang. Hahahahah akhirnya kita malah saling berprasangka bukan?

Kalo menurutku healthy life aja deh, jauhi segala macam prasangka apapun itu. Karena apa yang dilihat belum tentu itu sebuah kebenaran. Yang terpenting cobalah untuk menikmati hidup dengan cara: dijalani, dinikmati dan jangan lupa disyukuri apa yang saat ini ada di genggaman kita.
Image source : sumberilmupsikologi.blogspot.com

Nana Dilsya

Hanya seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurusi suami dan anak-anaknya. Mencoba menulis artikel hanya sekedar untuk mengisi waktu istirahat setelah beres-beres rumah.

Post a comment

0 Comments