Investasi Sesuka Hati

Saya merasa sangat berdosa sebenarnya karena sudah beberapa minggu menunda untuk menyetorkan tulisan. Karena kerjaan yang entah kenapa di awal tahun malah menyita tenaga dan pikiran karena ditekan (baca: omelin) sana-sini dan juga ada perubahan sistem sehingga mau tak mau kerjaan jadi bertambah. Anyway, bagaimana 2016-nya? Sudah berapa resolusi tercapai? Atau baru mau mulai bikin resolusi? Saya termasuk golongan yang kedua, tapi nanti dibahas di blog pribadi saja.

Ada seorang teman yang dulunya dekat, namun karena jarak dan tempat kerja yang berbeda, kami jadi tak bertemu lagi. Tapi saya masih bisa tahu kabarnya dari Facebook, dan kemarin malam saya iseng buka profil dia. Facebook-nya penuh dengan bisnis onlinenya, entah itu ajakan untuk bergabung atau testimoni dari siapa saja yang telah bergabung ke bisnisnya. Saya ambil kesimpulan bahwa bisnis yang sedang dia tekuni itu sukses, saya salut dengan kemauan kerasnya untuk berhasil. Tapi saya juga menyesal kenapa mampir ke profilnya, karena dari sana saya jadi mengkhawatirkan masa depan saya sendiri, teman saya itu sudah punya bekal untuk hari tuanya. Bisnisnya itu konon nggak akan pernah bisa mati. Sedangkan saya apa?  Cuma mengandalkan gaji dari pabrik, dan tetap jadi cungpret, kacung kampret (meminjam istilah Ruly, tokoh dalam Antologi Rasa), jika semasa-masa di-PHK, kelarlah hidup saya. Dan habislah saya seharian penuh dimakan rasa kekhawatiran yang sebenarnya sah-sah saja. Sampai beberapa pertanyaan bermunculan, mulai dari : "Ntar kalo lu tua mau gimana?", "Kalo lu udah nggak bisa kerja mau ngapain?", "Kalo ijazah SMK lu udah nggak laku lagi buat ngelamar kerja dan umur lu udah kedaluwarsa buat kerja gimana?" sampai "Kapan kawin?. Oke yang terakhir itu pertanyaan sampah yang tidak ada di daftar.

Saya mulai terganggu dengan rasa khawatir sendiri, dan mulai sok-sokan mencari solusi. Baiklah, saya harus berinvestasi atau setidaknya ada yang saya siapkan untuk masa depan kelak. Tapi sampai menjelang maghrib langkah saya cuma di niat, belum ke mana-mana rancangan dipikiran pun belum ada. Lantas karena bosan sendiri, saya ambil novel favorit saya lalu saya baca lagi. Dan entah ada suara yang datang dari mana seolah bilang bahwa yang sedang saya pegang ini bukan cuma novel, tapi sebuah investasi. Kenapa disebut investasi mungkin karena novel-novel yang telah saya beli dan sebagian saya simpan di rumah akan berumur panjang dan akan diwariskan. Entah untuk adik saya nanti, keponakan dan sepupu saya atau bahkan untuk anak saya. Saya tahu investasi yang saya punya sekarang tidak akan menghasilkan uang nantinya, tapi tidak salah kan jika saya beranggapan bahwa investasi uang tidak ada apa-apanya dibanding ilmu? Anggaplah bahwa kalimat di atas adalah sebuah pembelaan atas sebuah kegamangan, tapi untuk sementara selama saya belum mempunyai amunisi seperti teman saya di atas, rasanya tidak akan jadi masalah jika saya melakukan investasi atas dasar hati dan hobi. Saya tidak sendiri di sini, orang-orang yang hobi dengan motor dan segala pretelan-nya, cewek modis yang rela membelanjakan separuh gaji mereka untuk membeli kosmetik dan baju nyentrik, mereka yang hobi memburu barang antik mereka juga sedang melakukan investasi. Akan dianggap sah dan wajar selama didapat dari hasil jerih payah sendiri dan orang lain pun tidak merasa rugi. Jadi mari memaklumi apa yang sedang kita tekuni hari ini, lagi pula investasi untuk masa depan tidak melulu di seputar uang dan tunjangan kan? Kalau memang rezeki, uang pasti akan datang sendiri.

Ada Aamiin?

Agnes Sucitra

A Weirdo.

Post a comment

0 Comments