Akan Ada Waktunya...


Yang di tahun 2016 masih jomblo mana suaranyaaaaa? Apakah masih males kondangan karena takut ditanyain kapan nyusul nikah? Apakah masih rajin pake trik lama : pura-pura kejang pas ditanya udah punya pacar atau belum? Atau masih saja kesel dan geram mendengar guyonan bertemakan ‘Jomblo’? Mudah-mudahan tidak ya kawans....

Di jaman Pokemon Go! ini rasanya sayang sekali jika kalian masih pusing mikirin kapan nikah, atau masih saja galau meratapi status "Jomblo" yang sudah bertahun-tahun. Indonesia tuh luas banget gaes, tak seperti yang kamu liat di peta. Sudahkah kamu berkeliling Indonesia? Sudahkah nyobain serunya travelling sendiri atau bareng temen-temen dan bahkan keluarga? Sudahkah wisata kuliner untuk mencicipi jutaan makanan khas indonesia? Sudahkah puaskah menggeluti hobimu? Sudah tercapaikah apa yang udah kamu cita-citakan dulu? Atau mungkin sudah berototkah kakimu gara-gara main game Pokemon? Kalo kamu merasa masih banyak sekali hal yang belum kamu lakukan bareng temen, atau keluarga, maka bersyukurlah kalian kalo masih jomblo.

Ada beberapa alasan menurut saya untuk tidak gegabah memutuskan mengakhiri masa lajang terlalu dini. Anjuran dari agama memang untuk segera menikah jika sudah mampu, salah satu alasannya adalah untuk menghindari zina. Tapi kalimat tersebut perlu kita garis bawahi, apakah mampu secara niat saja, mampu secara mental saja, mampu secara fisik saja, atau mampu secara materi saja? Hanya karena alasan untuk menghindari zina dan menuruti nafsu, seseorang memutuskan untuk segera menikah dengan pasangan cuma dengan modal niat, mental, fisik, tapi materinya pas-pasan maka bisa kita terka seperti apa kehidupan keluarganya kedepannya. Percaya deh gaes, kehidupan seseorang setelah menikah itu bukan mikirin masalah seks melulu, tapi akan banyak sekali permasalahan yang akan tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan kamu dan mau tidak mau harus kamu selesaikan satu per satu.

Memang banyak sih orang yang bilang "Menikahlah… Jangan khawatir miskin, Allah pasti memberi rezeki". Tapi dunia ini kejam kawan, kita harus punya bekal yang cukup untuk mengarungi samudera kehidupan yang begitu luas dan tak bisa diduga ini. Kita tidak pernah tau laut akan selalu tenang atau akan sering terjadi badai secara tiba-tiba. Allah SWT pasti akan kasih jalan rezeki ke kita, tapi bukan berarti kita nekat nikah pas baru lulus SMP kan? Atau karena sudah merasa cukup umur dan mampu secara materi lalu buru-buru menikah dengan sembarang orang yang ujung-ujungnya malah bubar di tengah jalan kan? Intinya sabar aja gaes.

Jujur, saya dan suami memang menikah di usia yang tergolong muda. Saya dan suami saya memutuskan menikah di usia muda karena memang kami merasa sudah berada di zona ‘mampu’. Saat itu suami saya sudah bekerja, begitupun dengan saya, bahkan saya bekerja sambil kuliah dengan biaya sendiri malah, dan tidak lagi bergantung kepada kedua orang tua saya. Dari segi usiapun kami tidak terlalu belia apalagi tua. Dan yang alasan paling masuk akal waktu itu kami bingung, apalagi yang akan kami kejar? Apalagi yang akan kami cari? Rasanya sudah cukup puas untuk bermain-main di masa-masa lajang saat itu. Dan Bismillah, dengan pekerjaan saat ini kami yakin bisa membiayai kehidupan anak kami kelak, dan bisa memberikan kehidupan yang layak bagi anak kami meski jauh dari kata mewah.

Kalo masalah takut berzina? Disederhanain aja, tak perlulah kita mendekatkan diri pada hal-hal yang menjurus pada zina. Kalo film kartun saja sudah cukup membuat kita bahagia, ngapain nonton film dewasa? Kalo berteman dengan sahabat saja sudah cukup menambah wawasan dan semangat hidupmu, untuk apa bergaul dengan lawan jenis yang tidak pernah kita tau batasannya seperti apa. Tidak perlulah penasaran dengan hal-hal begituan kalo pokemon dan kuliahmu atau pekerjaanmu saja bisa menyibukkanmu setiap hari.

Sekarang cobalah kamu tanya sama dirimu sendiri. Sudah benar-benar siapkah kamu? Sudah siapkah kamu jika ruang lingkup kebebasanmu sedikit berkurang? Sudah siapkah ketika pasangan kita menegur kesibukan maen gadget kita? Yakin sudah siap jika kamu di tuntut bangun pagi oleh pasanganmu atau oleh mertuamu? Yakin sudah siap waktu kumpul bareng temen akan berkurang bahkan nyaris hilang? Yakin kalo me time-mu bakalan jarang banget kamu lakukan? Kalo belum siap maka bersyukurlah kamu kalo masih jomblo.

Pacaran atau menikah adalah sepenuhnya milik kita, bukan milik teman, sahabat atau siapapun orang-orang yang rajin bertanya "Mana pasangan kamu? Kapan nyusul? Kapan menikah?" Dan sebagainya. Terlebih bukan milik orang-orang yang suka nyinyir. Menikah adalah mutlak kita yang menentukan, mau sekarang, besok, lusa, bahkan tidak menikah sekalipun adalah keputusan kita sendiri. Lalu bagaimana jika pertanyaan keramat itu selalu muncul di depan kita? Maka jawablah dengan kalimat : "Akan ada waktunya". Yap, akan ada waktunya di mana kita telah merasa sudah cukup melajang dan bersenang-senang dengan indahnya dunia ini. Akan ada waktunya kita bertemu dengan seseorang yang menurut kita 'Dialah orangnya'. Akan ada waktunya kita merasa cukup dengan materi yang kita punya. Akan ada waktunya ketika kita benar-benar mantap untuk menjalani komitmen sekali seumur hidup. Dan terkahir, pada akhirnya akan ada waktunya pertanyaan-pernyaan tersebut berhenti ditanyakan kepada kita. Trust me, its work :D


Anggi Pamungkas

Working Mom & bathroom singer.

Post a comment

0 Comments