Dia Yang Gila Atau Aku Yang Kurang Waras?



Sore itu seperti biasanya, sepulang dari kantor saya melintas di sebuah lampu merah yang sering saya lewati. Saya berhenti tepat di belakang sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap. Dari tampilannya, bisa ditebak kalau mobil tersebut pasti hargnya tidak murah. Sambil terus memandangi mobil yang tepat berada di depan saya ini, tiba-tiba pikiran saya pun melayang, “Kira-kira berapa ya harga sedan mewah ini? Apakah sedan ini dibeli pakai duit semua atau boleh sedikit campur pake daun? Gimana ya kalau saya minta tukar mobil mewah ini dengan sepeda motor yang sedang saya naiki ini, tapi harus dia yang mesti nambah? Kira-kira pemiliknya bakal ngasih nggak ya? Hehehe…” otak iseng saya mulai ngelantur. Tiba-tiba khayalanku buyar oleh bau busuk menyengat yang tercium oleh hidungku. Setelah kutengok sebelah kiriku, tampak seorang yang sedang menyantap makanan dari sebuah plastik kresek berwarna hitam, sambil penasaran kuamati isinya, "Kok baunya luar biasa busuk?"

Sesuai dugaan, bukan cuma basi saja istilah yang pas untuk menggambarkan nasi yang sedang disantap oleh bapak-bapak berbadan kurus dan dekil itu, tapi dia menyantap nasi yang sudah berair, lembek dan berbau amat busuk. Tapi kok kelihatannya dia seperti menikmati sekali makanan yang sudah tidak jelas baunya itu ya? Mendadak saya pun merasa iba. Memang baru pertama kali saya melihat beliau, dan baru pertama kali juga saya merasa bahwa tidak ada salahnya untuk berbagi sesuap nasi dengan orang yang baru dikenal. Entah kerasukan apa saya sore itu, saya berniat ingin sekali menolong beliau. Setelah lampu hijau menyala, langsung saya pun bergegas menuju rumah yang memang tidak jauh dari lampu lalu lintas tersebut.

Sejak dari kantor gerimis memang mulai rintik, angin pun terasa semakin kencang, belum lagi langit yang semakin gelap, ditambah beberapa kilat yang lumayan bikin suasana semakin ngeri. Di tengah perjalanan saya kembali berpikir, “Apa biarin aja ya?”. Hujan sudah mau turun dan anakku pasti sudah menunggu di rumah. Tapi kasihan sekali bapak tua itu tadi, dia pasti sangat lapar, dan makanan yang ia makan benar-benar sangat tidak layak konsumsi, sedangkan di rumah saya masih banyak makanan yang bisa saya bagikan kepada beliau. Lalu batinku pun berkata “Sudahlah Anggi… lupakan saja, jangan jadi sok dermawan kamu…”

Sesampainya di rumah, di luar ternyata masih gerimis kecil seperti saat saya keluar dari kantor tadi, dan kebetulan si kecil sedang tertidur pulas. “Mungkinkah ini pertanda bahwa saya memang ditakdirkan untuk berbagi dengan bapak itu?”. Kapan lagi coba saya bisa menolong orang yang sangat membutuhkan, sedangkan saya sendiri merasa punya kelebihan untuk untuk menolongnya. Singkat cerita, akhirnya saya pun memutuskan untuk kembali lagi ke TKP (Tempat Ketemu Pemakan nasi basi) dengan sebungkus nasi layak makan lengkap dengan lauk pauknya. Sesampainya di sana saya baru sadar, kenapa tadi saya tidak bungkusin minumnya sekalian? "Ah sudahlah mungkin beliau sudah biasa minum air hujan," pikirku.

“Ini nasi buat bapak,”

“Angel...” balas beliau lirih.

Tadinya saya pikir saya dikira Angel yang merupakan kata dalam bahasa inggris yang diucapkan secara lugu dan apa adanya oleh beliau. "Wah... Gara-gara ngasih sebungkus nasi aja, saya sampai dipanggil bidadari sama beliau, hehehe...," saya sudah ge-er aja. Tapi setelah saya sadar, kata Angel dalam bahasa jawa kan artinya susah, mungkin maksudnya dia susah untuk berdiri dan meraih makanan dari tanganku kali ya? Spontan saja saya turun dari motor untuk memberikan makanan yang saya bawa tadi kepada beliau, lagian agak kurang sopan juga sih jika seandainya saya memberikannya dengan cara posisi saya masih nangkring di atas motor. Setelah mengambil makanan dari tanganku ini, kemudian beliau langsung memakannya, tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpun. Reaksi yang lumayan aneh menurut saya. Mungkin saking laparnya bapak ini sampai lupa berterima kasih. Atau jangan-jangan bapak ini bukan gelandangan biasa deh, mungkin bapak ini adalah orang gila yang merangkap status sebagai gelandangan, orang gila kan jarang yang tau terima kasih. Sambil menuju rumah saya pun mulai merasa ragu.

Keesokan harinya di jam yang sama ketika saya pulang kerja, saya pun melihat bapak itu lagi. Tapi kali ini pemadangannya cukup berbeda dari kemarin, bapak tersebut berjalan-jalan di sekitaran halte bus tua di depan kantor saya tanpa menggunakan baju. Ok fine… Agaknya dugaan saya memang benar, si bapak yang kemarin saya tolong ini memang benar-benar orang gila. Entah kenapa tiba-tiba saat itu saya jadi merasa ikut-ikutan agak kurang waras. “Hah… Serius yang kemarin saya tolong itu orang gila…??!!!” Tapi kalau dipikir-pikir, segila-gilanya dia lebih gilaan saya sih, kenapa orang gila saya deketin, udah gitu saya kasih makan pula? Masih untung dia nggak teriak-teriak sambil ngejar-ngejar saya. Mudah-mudahan saja level kegilaan saya melebihi orang gila itu, sehingga saya tidak perlu khawatir diganggu sama orang gila level bawah, mana ada kan orang gila yang udah profesional diganggu sama orang yang gilanya masih amatiran?

Hari berikutnya entah mengapa sepertinya saya menjadi lebih sering melihat bapak itu. Bukan hanya di sekitaran halte bus tua, tapi juga di jalan ketika saya menuju rumah. Saya ingat waktu itu tepat hari Jumat, jam kantor sudah usai, dalam perjalanan pulang di halte depan kantor saya melihat bapak itu sedang duduk termenung seperti tengah menunggu seseorang. Dan ketika saya sibuk memandangi bapak itu, tiba-tiba beliau menoleh ke arah saya. Dan dueerrrrr!!! Pandangan kami pun bertemu. Saya pun langsung melengos sambil buru-buru menutup kaca helm saya. “Duuhhh gimana nih?" Gimana kalau bapak itu sebenernya kenal dan ingat sama saya. Jangan-jangan dulu kami adalah putri dan bapak yang tertukar, saya yang sebenarnya jadi bapaknya dan bapak itulah yang jadi anaknya (duh apaan sih). Langsunglah saya kebut sepeda motor saya menjauh dari bapak itu. Dan sejak saat itu setiap kali pulang kerja saya jadi punya kebiasaan baru, yaitu berdoa sebelum perjalanan pulang. Saya berdoa supaya dalam perjalanan nanti tidak bertemu lagi dengan orang gila itu. Selain itu saya juga menjadi lebih waspada, saya takut bapak itu diam-diam mengikuti saya dari belakang sampai rumah.

Saya sebenarnya tidak menyesal sama sekali telah menolong orang gila itu. Tapi gimana ya? Bukan seperti ini sih yang saya harapkan. Saya memang tidak berharap bapak tersebut membalas kebaikan saya, tapi ya nggak gini juga, saya menjadi seperti orang yang kurang waras gara-gara setiap hari dihantui oleh pikiran-pikiran buruk saya terhadap orang gila yang sudah saya tolong tadi. Mungkin saja bapak itu masih menunggu nasi bungkus saya yang berikutnya, atau bisa saja mungkin bapak itu baru ingat kalau dia belum berterima kasih kepada saya. Duh saya kok malah jadi merasa semakin banyak yang menganggu di kepala setelah menolong bapak itu ya? Mungkin seharusnya waktu itu saya biarkan saja bapak itu, atau paling tidak insting saya harus lebih peka lagi terhadap hal-hal yang seperti ini. Sumpah, asli ini bakalan nggak enak banget jika kehidupan saya kedepannya harus seperti main kucing-kucingan sama orang gila itu. Saya mesti gimana ini ya?

Mungkin ini semacam sentilan buat saya, agar saya kedepannya lebih ekstra berhati-hati lagi sebelum bertindak, sebab ternyata perbuatan baikpun tidak selalu menjamin kedepannya akan berakibat baik juga pada diri kita sendiri, apalagi untuk perbuatan jahat?


Anggi Pamungkas

Working Mom & bathroom singer.

Post a comment

0 Comments