Televisi


Saya masih ingat ketika siang itu saya mengekor Alm. Kakek saya pergi ke rumah adiknya untuk menonton siaran langsung Tinju Dunia antara Mike Tyson dan Evander Holyfield yang kita semua tahu bahwa pertandingan tersebut menjadi pertandingan paling kontroversial sepanjang sejarah karena sang Legenda Dunia, Mike Tyson menggigit kuping lawannya. Saya yang masih kecil kala itu malah terlelap di sisa pertandingan, sementara satu ruangan penuh dengan ketegangan. Ingatan itu masih lekat sampai detik ini karena bisa dibilang sejak hari itu lah saya mengenal televisi, saya sudah menontonya sejak masih berumur 5 tahun, namun baru siang itu saya merasakan bahwa satu ruangan telah dipersatukan oleh Televisi. Saya dibuat bahagia luar biasa ketika tetangga depan rumah membeli televisi itu lho yang bentuknya seperti lemari kecil lengkap dengan tutup yang digeser, karena artinya itu memperpendek jarak tempuh saya untuk menonton TV. Dan ketika untuk pertama kalinya film Kuch-kuch hota hai diputar di layar TV, rumah tetangga saya menjelma layaknya magnet karena semua penghuni rumah kanan dan kiri mendatangi rumahnya, pun dengan saya dan mama saya yang membawa jenggok sendiri dari rumah saking penuhnya tempat duduk. Tak lama di rumah saya muncul TV baru, inisiatif dari Alm. Kakek saya, bosan menumpang tetangga terus katanya. Saya menjadi kecanduan TV sejak saat itu, tiap bangun pagi saya ingin langsung menonton TV, pulang sekolah yang saya pegang pertama kali adalah remote TV tanpa mendahulukan berganti seragam.

Tak berselang lama, hampir semua rumah di desa saya mempunyai televisi, semua TV berwarna karena mungkin TV hitam putih sudah berhenti diproduksi. Bisa dibilang tempat tinggal saya waktu itu sudah 'melek' teknologi. Dan televisi mulai menjadi kebutuhan, menjadi sumber berita pertama menggantikan posisi radio sebelum internet berkembang seperti sekarang. Acara favorit nenek saya ketika TV mulai berperan di kehidupan keluarga kami adalah Patroli di Indosiar, berita kriminal yang mengerikan dengan segudang peristiwa yang disajikan malah menjadi kesukaan, tak heran sih ketika kadang cucunya yang sudah merantau ke Jakarta berbincang dengan beliau lewat telepon tak jarang beliau selalu bilang; Kemarin ada yang terbunuh di Jakarta, jauh kan dari tempatmu ? Saya bisa mengalami pertanyaan serupa.

Televisi berpengaruh besar pada keluarga kami, Bapak saya bisa menonton siaran sepak bola nasional maupun internasional dari TV, mama saya tahu ada pernikahan dan perceraian artis dari TV, sedangkan saya dibuat jatuh cinta dengan serial kartun Chibi Maruko Chan oleh benda kotak nan ajaib ini. Obrolan bapak-bapak di warung kopi berawal dari TV, dan ibu-ibu yang dipersatukan dengan pembahasan yang sama yakni tayangan sinetron kesukaan mereka, tanpa komando teras rumah disulap menjadi majelis permusyawaratan sinetron, saling melempar komentar dan bersatu padu membenci tokoh antagonis. Jika ditanya seperti apa TV bagi kami, kami mungkin akan sepakat menjawab dengan satu kalimat "Siapalah kami ini tanpa Televisi".

Bukan mau bilang kami sangat mencintai televisi, bukan mau menjadikan televisi seperti segalanya bagi kami, bukan pula mau menyanjung televisi setinggi-tingginya, tapi dialah penyelamat kami dari segala lelah dan penat. Selepas Isya kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu menonton televisi, meski selera kami berbeda dan meski akan ada satu anggota keluarga yang harus mengalah melewatkan acara favoritnya karena dia paling muda tapi sampai waktu tidur tiba acara menonton TV bersama berjalan dengan baik-baik saja. Terlepas dari acara TV yang makin ke sini makin tak terkendali, baik dari isi maupun dilihat dari nilai pesan yang disampaikan, kami tetap menjadikan televisi sebagai penghibur nomor satu karena tidak semua anggota keluarga mengenal internet. Anggota tertua, yakni nenek saya  tidak mengenal internet, mama saya buta internet, bapak saya memang sejak saya kenalkan pada smartphone android ada passion ke sana, dan anggota termuda setelah saya yakni adik saya sudah merengek minta dibelikan tab yang tentu saja tak saya turuti, pengenalan internet sejak dini itu perlu pengawasan khusus dari orang tua, saya tak mau adik saya ‘menua’ sebelum masanya. Biarlah dia berkawan dengan televisi dulu, Upin Ipin dan kartun lainnya. Dan ketika saya mulai tahu apa itu bioskop, dan hanya bisa merasakan suasana menonton sebuah film dari layar raksasa dalam sebuah gedung dari cerita teman-teman sekolah saya yang kebetulan tinggal di kota, televisi menjadi satu-satunya harapan saya yang tinggal di pelosok desa, meski tidak akan bisa merasakan suasana yang sama tapi setidaknya saya bisa menyaksikan film yang mereka tonton juga walau harus bersabar menunggu 2 tahun setelahnya sampai stasiun TV dalam negeri ‘berani’ memutarnya. Dan bisa dibilang karena televisi pula saya terlatih untuk menunggu (uhuk).

Merantau membuat saya lupa televisi, sudah lama tak ada televisi di ruang satu petak saya, dan saya pun menjadi terbiasa. Internetlah yang menjadi sumber berita dan menonton televisi sesekali saja ketika singgah ke rumah tetangga. Sampai kemarin satu minggu yang lalu, ada kabar duka dari rumah bahwa TV yang dibeli 6 tahun lalu mati tak mau menyala. Efeknya waktu tidur sekeluarga menjadi lebih awal, adik saya punya jam belajar lebih panjang, itu kemenangan buat mama saya karena selepas belajar adik saya langsung akan meminta tidur. Tapi tak berlangsung lama, bapak saya berinisiatif membeli TV bekas tetangga, meski bekas tetapi jarang dipakai katanya. TV cembung tercinta kami terganti posisi dengan layar datar berukuran 21 inch dibeli dengan separuh harga baru dan baiknya tetangga kami memberi tempo. Lalu kegiatan menonton televisi hidup lagi. Selepas isya saat saya menelepon ke rumah, selain suara teriakan adik saya ada suara dari televisi di ujung sana. Cerita TV rusak tersebut mengingatkan saya bahwa televisi masih menjadi favorit keluarga saya, banyak hari yang sayang dilewatkan tanpa televisi, sekali lagi bukan mau menyanjung televisi tinggi-tinggi, tetapi betapa canggihnya teknologi internet, tak ada yang bisa mengganti televisi di hati. Meski dari segi tayangan banyak yang harus dibenahi dan menjadi PR untuk dikoreksi entah oleh redaksi TV atau rumah produksi.

Agnes Sucitra

A Weirdo.

Post a comment

0 Comments