Siswa Tidak Pandai? Salah Siapa?


Saat itu saya bertemu dengan teman rekan seprofesi, panggil saja namanya Pak “Super”. Jadi Pak Super ini adalah seorang guru di SD Negeri Favorit di kota kami. Pada saat itu kami sempat ngobrol ngetan ngulon ngalor ngidul mulai dari masalah pekerjaan, masalah rumah bahkan hingga sempat bernostalgila sedikit juga. Pasalnya mantan Pak Super adalah sahabatku... Uppssss...wkwkwkwkwk...

Yang membuat saya merasa aneh dan membuat kacau pikiran saya adalah saat Pak Super menceritakan pengalamannya saat membagikan Laporan Hasil Belajar Siswa (red. Raport) pada semester genap kemarin. Saat beliau menyerahkan buku Raport pada wali murid sambil menjelaskan perkembangan belajar anak didiknya, ada kejadian yang membuat kami sebagai seorang guru melongo (ngooooooo nggooooooo).

Pasalnya saat Pak Super menjelaskan bahwa anak si Ibu tersebut mendapat nilai yang kurang pada mata pelajaran matematika, eh si Ibu malah menjawab dengan gampangnya, “Saya tau pak, kalau anak saya nilai matematikanya kurang. Apa gurunya yang kurang bisa mengajari anak saya ya?". Padahal Pak Super tidak lain dan tidak bukan adalah guru dari anaknya. Apa si Ibu itu masih sehat? Pikirku. Tik tok tik tok... Lha kok beraninya bilang seperti itu di depan orangnya?

Menurut saya Pak Super adalah orang yang pintar, malah bisa dibilang cerdas. Beliau mengajar di salah satu sekolah favorit juga pasti karena kepandaiannnya bukan? Bahkan setahu saya beliau rela pulang sore demi melayani anak-anak yang ingin belajar padanya tanpa meminta bayaran. Tak jarang ada juga siswa yang mau datang ke rumahnya untuk belajar dan beliau menerimanya dengan senang hati. Lha kok teganya si Ibu bilang mungkin gurunya yang tidak pinter ngajari anaknya... hiiihihiihiii...

Oke... sekarang pindah ke cerita yang saya alami sendiri.

Kebetulan saya mengajar di kota yang sama dengan Pak Super. Bedanya bukan di sekolah favorit melainkan di sekolah biasa.

Saya juga punya pengalaman yang hampir mirip dengan Pak Super. Jadi saat itu saya mengajar di kelas II. Di mana saya menjumpai ada tiga anak yang menurut saya sangat membutuhkan bimbingan dalam belajar. Setelah saya beri tambahan jam belajar untuk ketiga anak ini, ternyata hasilnya masih jauh dari harapan. Padahal saat itu sudah melewati UTS II, dengan kata lain waktu di kelas II tinggal sekitar 2 bulan lagi. Kalau ini dibiarkan maka anak tersebut bisa tidak naik kelas. Dalam hati kecil saya, seperti tak ikhlas kalau nanti harus mencoret kalimat “Naik Ke Kelas” dan mengisi “Tinggal Di Kelas...”. Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari Kepala Sekolah, saya membuat surat undangan kepada orang tua murid anak tersebut, tujuannya untuk menyampaikan perkembangan anaknya dan ajakan bekerja sama.

Tibalah hari di mana saya bertemu dengan wali murid yang saya kasih undangan. Dari tiga orang yang saya undang, hanya dua orang saja yang datang. Saya persilahkan mereka masuk ke ruangan. Dan saya tanyai satu persatu tentang kegiatan anaknya di rumah. Dan hal yang membuat saya terheran-heran adalah jawaban dari Ibu Senyum. (Sengaja saya namai Senyum karena orangnya senyum terus wkwkwkwk...)

Ibu Senyum menceritakan dengan detail kegiatan anaknya di rumah. Dan si Ibu itu mengiyakan anaknya tidak belajar di rumah. Setelah saya tanya kenapa tidak belajar? Si Ibu menceritakan kalau di rumah anaknya sukanya nonton TV dari pada belajar. Saat itu saya mencoba memberikan saran kalau jam-jam vital (pukul 18.00 sampai 21.00) usahakan matikan TV dan temani anaknya belajar. Kalau tidak ada suara TV dan orangtua menemani anakya belajar, menurut saya itu ide yang tepat supaya anak mau belajar. Namun betapa kagetnya saya saat tau jawaban ibu senyum tersebut.

“Lho Bu, kalau TV-nya saya matikan saya enggak bisa nonton sinetron kesukaan saya dong?,” dengan santainya si Ibu Senyum itu berkata. Bisa dibayangkan raut muka saya langsung berubah seperti apa?

Ibu ingin anak ibu pintar engga? Kalau ibu ingin anak ibu naik kelas, saran saya kita kerja sama ya Bu. Di sekolah saya akan bekerja keras dan di rumah adalah tugasnya Ibu. Mohon batuannya ya Bu,” saya memelas untuk kesekian kalinya pada si Ibu Senyum itu.

Bukan jawaban yang menyenangkan yang saya dapat, tapi saya justru malah makin terheran-heran dengan jawaban si Ibu itu. Dia bilang susah kalau tidak nonton TV, dia akan ketinggalan sinetronnya lah, anaknya nanti akan marah-marah kalau tidak nonton TV lah, dan parahnya lagi seakan-akan menegaskan kalau yang sangat berperan dalam pintar tidaknya anaknya adalah “GURUNYA”.

Sepenggal cerita dari Pak Super dan Ibu Senyum tadi, membuat kami para guru memikul beban yang sangat berat. Bahkan bisa dikatakan kami harus membawa beban yang lebih dari yang seharusnya kami bawa. Okelah, tugas kami adalah mendidik putra putri bangsa, tapi apa kalian para orang tua sadar bahwa anak adalah titipan yang Kuasa? Yang pada-Nya kalian akan diminta pertanggungjawabannya. Tugas kami para guru hanya mendidik di sekolah, kami bersama putra putri bapak ibu hanya sekitar 7 jam perhari, dan sisanya mereka bersama Bapak Ibu semua.

Ayolah mulai sekarang benahi diri, cobalah untuk berintrospeksi. Apakah selama menjadi orang tua, kita sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita? Miris rasanya ketika kita menginginkan anak kita menjadi seperti yang kita inginkan tapi justru kitanya sendiri malah sama sekali tidak turut serta berperan dalam mendidiknya. Kita bebankan semua tugas tersebut kepada guru dan sekolah. Dan ketika si anak sukses, dengan bangganya mereka katakan ke semua orang 'Siapa dulu orang tuanya?', tapi giliran si anak 'gagal', barulah orang tua murid menyebut-nyebut dan menuding gurunya.

Perlu saya sampaikan di sini, bahwa jangan apa-apa guru dan sekolah yang disalahkan. Anak tidak pintar guru yang salah, anak nakal guru yang salah, anak kena narkoba guru juga yang salah. Tapi giliran guru atau sekolah menegakkan kedisiplinan, guru malah dipidanakan.

Bukan karena saya guru maka saya membela guru, tapi marilah kita berpikir lebih jauh lagi, siapa kita dan apa tugas kita terhadap amanah Yang Kuasa. Untuk menyiapkan putra putri kita menjadi insan yang siap tumbuh menjadi manusia yang beriman, berbudi, dan bermartabat, kita punya kewajiban yang sama dalam hal mendidik. Untuk itu, marilah kita bekerja sama dan berbagi peran dalam mendidik mereka. Bapak dan ibu sebagai orang tua dan anak di rumah dan saya sebagai guru dan murid di sekolah.



Hanifah Setiari

Tidak ada yang tidak mungkin selagi ada kemauan, usaha, dan doa...

Post a comment

2 Comments

  1. Orang tua adalah guru yang paling utama. Krn berawal dr rumah lah, anak2 memulai kehidupannya. Terutama di masa2 golden age, yg berperan sebagai pondasi untuk membentuk karakter anak2 kelak ketika dewasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju kakak... tapi ada sebagian orang tua yang kurang memahami arti peran pentingnya orang tua sebagai guru yang paling utama bagi putra putrinya. mereka hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan finansial anak, dan lupa bahwa anak juga butuh pelajaran yang berharga selain itu, yaitu pendampingan di masa golden age nya....

      Delete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)