Mencintai Diri Sendiri

Images by imagesbuddy.com

Sekitar dua tahun yang lalu, pagi itu rekan kerja saya datang ke kantor dengan wajah sumringah dan langsung menghampiri saya sembari mengeluarkan ponsel terbarunya.

'Nih gue baru beli semalem, keren gak?', tanyanya. 

Belum sempat saya menjawab, dia berkata lagi.

'Lu tau gak? Gue beli hape ini 4 juta.  Tapi gue gak masalah sih, ini tuh kado buat gue sendiri di hari ulang tahun gue kemaren', imbuhnya.

‌Dia sama sekali tak memberi kesempatan saya untuk bicara, dia segera berlalu ke mejanya dan asyik dengan ponsel barunya.

Tak ada yang aneh dengan tingkahnya, pun dengan alasan kenapa dia membeli handphone baru. Namun ini adalah pertama kali saya mengetahui bahwa ada seseorang yang mau membeli kado untuk sendiri, alih-alih dibelikan. Tapi rekan kerja saya tadi, menjelma menjadi sebuah inspirasi buat saya. Apa yang telah dia lakukan, saya pun mengikuti.  Meskipun tidak semahal apa yang dia beli namun ada rasa bangga sendiri bahwa akhirnya saya menemukan cara bagaimana memberi penghargaan untuk diri sendiri.  Saya bukan tipe orang yang merayakan hari jadi, cukup disyukuri dan mengamini apa yang menjadi doa teman-teman dan keluarga. Hadiah pertama yang saya beli untuk diri sendiri adalah sepatu lari. Kenapa saya memilih sepatu? Di samping sepatu lari saya sudah rusak, juga karena saya berterima kasih karena saya dan tubuh saya sudah berhasil memangkas 10 kg berat badan waktu itu, malamnya saya menatap sepatu baru saya lalu berucap :

'Terima kasih untuk 20 tahun yang luar biasa, terima kasih untuk sakit dan sehat yang telah kita lalui bersama-sama, mari kita berjalan lagi di umur yang baru",

Tentu yang barusan terucap dalam hati, karena roommate saya pasti akan menganggap saya gila jika kalimat di atas diungkap dengan lantang. Paginya saya jogging menggunakan sepatu baru, rasanya biasa saja cuma ada yang buat saya lebih semangat untuk diet lagi saat itu. Tahun berikutnya saya menghadiahi tas punggung baru untuk saya, tahun berikutnya lagi novel baru. Untuk tahun ini, saya belum tahu. Ada yang punya saran?

Selama ini, saya pribadi merasa lebih banyak meluangkan waktu dan perhatian kepada orang sekitar, sedikit sekali waktu yang saya istimewakan untuk saya sendiri. Padahal kita semua tahu bahwa "ia" lah yang selalu bersama kita selama 24 jam penuh. Kedengarannya berlebihan, tapi tengoklah Kylie Minogue dan Jenifer Lopez yang mengasuransikan (maaf) bokong mereka, Christiano Ronaldo dan Lionel Messi yang mengasuransikan kaki hebat mereka bahkan sang Mr. Bond yang penuh kharisma, Daniel Craig mengasuransikan seluruh tubuhnya. Buat sebagian orang pastilah akan berpikir  aneh dan membuang uang untuk tubuh mereka sendiri adalah sesuatu yang nggak masuk akal, but hey... mereka itu hebat saya bilang. Mereka sudah sempurna mencintai diri mereka sendiri, terlepas dari fakta bahwa mereka adalah orang-orang kaya dan tubuh mereka adalah 'sumber' uang yang abadi namun yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk cinta dan penghargaan kepada diri sendiri. Kalau boleh jujur, saya iri.

Ada beberapa waktu saat malam menjelang tidur saya mengucapkan selamat tidur pada diri sendiri, saat sakit pun dan butuh waktu lama untuk pulih saya selalu bilang :

'Sudah ya Nes, sakitnya udah lama lho. Sembuh donk ya',

‌Nggak ada efeknya, besoknya saya masih sakit.  Tapi bukan itu tujuannya, saya menganggap diri saya istimewa saat saya bicara pada diri sendiri. Namun di dunia ini banyak yang mudah dilupakan dan diabaikan bukan? Termasuk kebiasaan saya tadi. Tapi sudah dua malam saya kembali melakukannya lagi, setelah saya menonton drama korea (my guilty pleasure)  berjudul It's Okay That's Love. Pada episode terakhir si pemeran utama pria adalah seorang penderita penyakit Skizorfrenia (silakan google sendiri) dan sedang dalam masa penyembuhan, dia adalah penulis terkenal dan seorang penyiar radio. Malam itu dia datang sebagai tamu, untuk membahas ide novel terbarunya dan untuk menyapa penggemarnya, dibagian akhir sesi acara tersebut Jang Jae Youl berkata bahwa selama bertahun-tahun pada akhir acara radio yang  dia pandu, dia selalu mengucapkan selamat malam kepada para pendengarnya tak pernah sekalipun dia mengucapkan untuk dirinya. Dia pun berpesan daripada menanyakan keadaan orang lain lebih baik tanyakan pada diri sendiri dulu apakah kita baik- baik saja dan malam itu untuk pertama kalinya, dia mengucap selamat malam lalu menyebut namanya dan tersenyum. Pesan yang saya tangkap dari adegan tersebut adalah, sebuah bentuk semangat dan dukungan dari Jang Jae Youl kepada dirinya sendiri, agar dia lekas sembuh dari sakitnya. Sekali lagi, ini adalah sebuah bentuk penghargaan dan cinta kepada diri sendiri.

Lalu sudahkan kita mencintai diri sendiri? Sudahkah kita mengistimewakan diri sendiri? Sudahkah kita berterima kasih untuk hal-hal luar biasa yang telah kita lewati? Jika sudah, lalu perbanyaklah, tambahlah rasa cinta selain ke sekitar ke diri sendiri juga. Mari belajar bersama-sama untuk lebih mencintai dan menghargai diri sendiri, lebih dan lebih lagi. Ada banyak cara, temukan sendiri lalu rasakan bahagianya.

Selamat Tahun Baru 2016
Dan... Selamat mencintai diri sendiri.

Agnes Sucitra

A Weirdo.

Post a comment

1 Comments

  1. Kalo bisa dan mampu berasuransi, gue sih pengen banget mengasuransikan otak gue.
    Takut nanti kenapa-napa, sayang otak jarang banget dipake soalnya wkwkwkw

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)